20 views
NU Online

URGENSI LITERASI KEBERAGAMAAN

URGENSI LITERASI KEBERAGAMAAN
Oleh: Abid Rohmanu

Dalam keseharian, sadar atau tidak, kita disuguhi kekerasan dalam beragam bentuk: wacana, ideologi, maupun perilaku. Itu begitu banyak ditemukan di media sosial –utamanya yang bersifat online–. Salah satu bentuk kekerasan itu yang sering tidak disadari adalah kekerasan wacana. Padahal, ia bersifat laten dan erosif. Bisa jadi, kekerasan ini lebih berbahaya dari bahaya komunisme!

Kekerasan wacana ini ditandai oleh: kuatnya ideologi keagamaan dalam klaim kebenaran (truth claim) sembari menyudutkan pihak lain. Kekerasan bisa melahirkan kekerasan lanjutan (fisik). Salah satu fakta mengerikan (beberapa waktu lalu) adalah bagaimana seorang pemuda melakukan penusukan terhadap seorang aparat sambil meneriakkan thagut. Pengakuannya, ia terinspirasi oleh wacana kekerasan di media sosial yang sering dibaca.

***
Dari fenomena di atas, menyiratkan betapa mengerikannya sebuah kekerasan wacana yang bisa bermetamorfosa menjadi kekerasan perilaku. Pertanyaannya: bagaimana jika media sosia tanpa kontrol di satu sisi sementara di sisi lain terjadi pengeroposan mental rahman pada jiwa-jiwa pelakunya. Berikut merupakan bukti otentik kewacanaan yang mungkin bisa menyadarkan bahwa kekerasan itu bukanlah ajaran agama (Islam).

Pesan Mazhab Kulturalisme
Kulturalisme melihat teks atau pandangan dunia merupakan faktor determinan dalam membentuk kesadaran dan perilaku kolektif masyarakat (Masdar Hilmy: 2008). Ada dialektika dinamis antara teks atau pandangan dunia dengan etos dan perilaku masyarakat (teks konteks). Di sinilah, dapat dipahami bahwa keberadaan wacana bisa mengonstruksi perilaku seseorang yang membacanya. Dalam perspektif kulturalisme dinyatakan bahwa kekerasan bisa bermula dari kata. Kata merepresentasikan keyakinan (baca: kebenaran). Kata berkembang menjadi frasa, frasa menjadi wacana, dan wacana membentuk kesadaran, serta perilaku baik yang bersifat inividual maupun kolektif.

Maraknya demokratisasi wacana keagamaan dibutuhkanlah semacam penguatan literasi (pemelekan) keberagamaan. Ingat hakikat literasi adalah sebuah pemahaman, penyadaran, dan pemaknaan (baik dalam pikiran maupun perilaku) kehidupan. Literasi keberagamaan dengan sendirinya adalah adanya pemahaman, kesadaran, dan pemaknaan agama bagi pelakunya; sehingga melahirkan perilaku rahman (baik verbal maupun non verbal).

Literasi keberagamaan adalah kemampuan masyarakat dalam memahami titik temu fundamental antara agama (Islam) dengan dimensi sosial, budaya dan politik. Masyarakat yang literat dalam keberagamaan ditandai oleh dua hal: (i) adanya pemahaman masyarakat atas dasar sejarah, teks sentral, keyakinan, dan manisfestasi praktis agama yang dianut; dan (ii) adanya kemampuan memahaminya dalam dimensi sosial, budaya, dan politik agama.

Pemahaman atas modal dasar keberagamaan itu menuntut pemeluknya agar memiliki pengetahuan dan pemahaman atas perbedaan antar teks keagamaan. Tafsir teks (pengetahuan keagamaan) itu bersifat profan sehingga perbedaan manifestasi agama dalam ruang-ruang kesejarahan umat Islam menjadi biasa.

Ilustrasi tentang madzab dalam tradisi keislaman selalu dinisbahkan kepada manusia, seperti mazhab Syafii, Hanafi, Maliki, Hanbali. Karena dinisbahkan kepada manusia maka pengetahuan dan pemahaman mazhab bersifat relatif, nisbi, dan tidak mutlak kebenarannya. Sementara, istilah syariah (agama) selalu dinisbahkan kepada Tuhan yang kebenarannya diyakini bersifat mutlak.

Kaum radikal cenderung menumpangtindihkan (i) antara teks dan tafsir teks, dan (ii) antara agama dan pengetahuan keagamaan. Pengetahuan keagamaan yang mestinya bersifat profan dinilai sebagai agama itu sendiri. Bukankah pengetahuan keagamaan sebagai tafsir terhadap teks mempunyai karakter majemuk? Fatalnya, kaum radikal cenderung memusuhi mazhab dan kelompok yang mempunyai tafsir yang berbeda. Apa yang mereka pahami dari agama dinilai sebagai “agama” itu sendiri sehingga wajib diperjuangkan keberlakuannya.

Karena pemahaman absolut demikian, kaum radikal menjadi militan dan keras dalam dakwahnya. Mereka masuk ke berbagai lapisan masyarakat dengan memanfaatkan berbagai forum sosial masyarakat untuk membentuk (mempengaruhi) wacana keagamaan yang radikal. Bukankah agama sesungguhnya adalah kelembutan? Sebuah tantangan bagi kita untuk melakukan counter wacana. Ingat pesan Emha, mengalahkan discourse wacana hanyalah dengan tanding wacana.

Sementara itu, counter wacana bisa dilakukan dengan memanfaatkan berbagai media. Inti dari counter wacana adalah mengembangkan literasi keberagamaan. Gerakan literasi keberagamaan bertujuan memberikan pengetahuan, pemahaman, penyadaran, dan pemaknaan keagamaan yang benar dan tidak semata ideologis. Hal ini bisa mengaitkannya literasi keagamaan secara interaktif antara teks dan konteks.

Tidak saja tekstualisasi konteks yang diperlukan, tetapi juga kontekstualisasi teks sesuai dengan kebutuhan ruang dan waktu. Konsep tentang pribumisasi Islam dan Islam Nusantara merupakan bagian dari contoh kontekstualisasi teks. Sebuah alternatif untuk menyadarkan dan memaknakan teks keagamaan sehingga beraroma rahman dan rahim.
Pengembangan literasi keagamaan itu menekankan pada isi dan subtansi Islam yang mengerucut pada moralitas/akhlak menjadi urgen.

Kaum radikal secara sederhana meringkas agama menjadi paket-paket aturan ritual dan legal sehingga Islam lebih mencitrakan diri sebagai agama yang kaku dan keras. Padahal Islam lebih luas dari itu semua. Islam berdimensi teologis, sejarah, budaya, tasawuf/mistisisme, dan dimensi akhlak. Dalam istilah Kuntowijoyo, umat Islam selama ini mengalami apa yang disebut dengan mistisisme kenyataan, yakni keterputusan agama dengan realitas.

Maka memberikan pengetahuan, pemahaman, penyadaran, dan pemaknaan secara sederhana tentang berbagai dimensi Islam adalah bentuk demistifikasi kenyataan. Sebuah keharusan yang penting dilakukan. Beragama harapannya, tidak terjebak pada literasi picik, yang sesungguhnya menggambarkan dirinya sebagai si buta agama, atau paling tidak rabun agama.

***
Akhirnya, pengembangan literasi keberagamaan diharapkan tidak sekadar wacana, tetapi suatu gerakan yang massif. Gerakan literasi keagamaan bisa menjadi preventive deradicalization. Mencegah secara dini potensi radikalisme keagamaan tanpa menunggu terjadinya aksi-aksi radikalisme yang bisa menelan ongkos kemanusiaa yang begitu mahal.
Literasi keagamaan dengan sendirinya menjadi tanggung jawab bersama. Siapapun kita, sehingga akan mengingatkan kembali kepada hakikat keberagamaan sebagai rahmatan lilalamin. Ini masa depan keberagamaan yang kita impikan ke depan. Bukan demonstrasi keakuan keberagamaan yang semakin mengerdilkan hakikat orang-orang beragama. []

Tulisan ini pernah dimuat di Duta Masyarakat, 8 Agustus 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: