72 views

Berinteraksi dengan Al-Qur’an

Al-Qur’an dan Pengalaman Kemanusian

Oleh: Abid Rohmanu*

Ada tiga perbedaan pendapat kapan al-Qur’an diturunkan. Pendapat pertama al-Qur’ann turun pada bulan rabiul Awal, kedua Bulan Rajab, dan ketiga Bulan Ramadan. Pendapat terakhir populer di kalangan umat Islam dikuatkan dengan ayat al-Qur’an yang menyatakan: “Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an” (al-Baqarah: 185). Pada ayat dan surat lain dinyatakan pula: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan (al-Qur’an) pada malam kemuliaan” (al-Qadr: 1).

Mengambil pendapat populer di atas, setiap Ramadan umat Islam memperingati turunnya al-Qur’an (nuzul al-Qur’an). Peringatan ini merupakan bentuk kesyukuran umat Islam karena telah diberikan “Kitab Petunjuk” untuk meniti jalan keselamatan di dunia dan akhirat. Peringatan ini sekaligus menjadi momentum umat Islam untuk merefleksi kembali bagaimana interaksi al-Qur’an dengan pengalaman kemanusiaan. Hal ini penting karena al-Qur’an yang berbentuk teks ini menjadi poros peradaban umat Islam. Nasr Hamid Abu Zaid menyebutnya sebagai peradaban teks.

Karena menjadi poros kehidupan dan peradaban, bagaimana umat Islam berinteraksi dengan al-Qur’an menjadi sangat penting. Karena itu persoalan utamanya adalah pada bagaimana sikap dan model komunikasi umat Islam dengan al-Qur’an. Sayangnya, kebanyakan interaksi tersebut tidak/kurang produktif karena lebih banyak bercorak normatif-harfiyah daripada bercorak kontekstual. Merujuk pada pendapat Abdullah Saeed, umat Islam terlalu menarik demarkasi yang kuat antara kalam Tuhan dan kalam manusia. Umat Islam meyakini teks dan naskah kitab suci sangat terkait dengan rekaman tertulis wahyu yang diturunkan Tuhan kepada Rasul-Nya. Ia dinilai merepresentasikan kalam Tuhan secara harfiyah. Wahyu dan naskah adalah identik. Akibat lebih jauh, umat Islam cenderung proteksif terhadap otentisitas ak-Qur’an, alih-alih melakukan kontekstualisasi dan pribumisasi dengan berbagai pendekatan yang diperlukan.

Turunnya al-Qur’an

Batang tubuh tulisan ini akan merujuk beberapa bagian dari buku saya Paradigma Teoantroposentris dalam Konstelasi Tafsir Hukum Islam (Ircisod, 2019), utamanya terkait dengan Gagasan Saeed tentang penafsiran kontekstual. Ini untuk menguatkan bagaimana intensitas interaksi antara al-Qur’an dan pengalaman kemanusiaan.

Konsep penafsiran kontekstual Saeed dibangun dari keyakinan/paradigma dalam melihat wahyu. Saeed melihat ada keterkaitan kuat antara wahyu, Nabi, misi dakwah, dan konteks sosio-historis yang mengitari proses pewahyuan. Al-Quran adalah ciptaan Tuhan. Tetapi al-Quran harus bersentuhan dengan pengalaman empirik manusia. Al-Qur’an berkomunikasi dengan masyarakat manusia sebagai subyek penerima. Maka, al-Qur’an sesungguhnya adalah wujud transformasi kalam Tuhan menjadi bahasa yang bisa dipahami manusia.

Untuk melihat bagaimana al-Qur’an berinteraksi dengan manusia, Saeed menjelaskan empat gradasi pewahyuan. Empat gradasi ini cukup menunjukkan bagaimana al-Qur’an berinteraksi dan berkomunikasi dengan pengalaman empirik manusia.

Gradasi pertama, Tuhan →  lawh al-mahfuz →  langit dunia →  malaikat Jibril. Pada Gradasi ini kalam Tuhan berada pada dunia ghaib, tidak bisa dijangkau oleh penalaran manusia.

Gradasi kedua, malaikat Jibril → pikiran Nabi Muhammad → eksternalisasi →  konteks sosio-historis. Pada gradasi ini pewahyuan memasuki dunia fisik. Pewahyuan pada gradasi ini berlangsung dalam bentuk yang bisa dipahami manusia. Proses pewahyuan memanfaatkan bahasa masyarakat sasaran, yakni bahasa Arab sehingga pesan wahyu bisa dipahami. Tidak saja pada persoalan bahasa sebagai alat komunikasi, subtansi wahyu juga merujuk pada problem kemanusiaan pada saat wahyu diturunkan. Subtansi ini tidak terlepas dari misi dan kepentingan Nabi dalam melakukan reformasi sosio-budaya dan keagamaan.

Gradasi ketiga, teks → konteks → teks yang meluas (enlarged text). Setelah kalam Tuhan/wahyu diinternalisasi oleh Nabi, kemudian dikomunikasikan (eksternalisasi) kepada masyarakat Arab, maka wahyu menjadi teks (lisan dan tulis). Sekali lagi, teks ini adalah bentuk respon wahyu terhadap problem sosial-kemasyarakatan yang berkembang pada saat itu. Selanjutnya, teks-teks al-Qur’an ditransmisikan, dibaca, dipelajari dari satu generasi ke generasi berikutnya untuk diamalkan atau diaktualisasikan dalam situasi yang konkrit. Dalam konteks ini, teks wahyu telah mengalami perkembangan karena ia dibaca dan diberikan tafsir dengan cara/metode yang berbeda-beda untuk kepentingan dan situasi historis yang berbeda pula.

Gradasi keempat, teks →  korpus yang tertutup. Setelah wafatnya Nabi, al-Qur’an diyakini bersifat final. Tetapi menurut Saeed, aspek-aspek tertentu dari pewahyuan yang bersifat nonprofetis, nonkebahasaan dan nontekstual akan terus berlangsung. Hal ini terkait dengan eksternalisasi teks yang akan terus dilakukan oleh setiap generasi. Pemahaman dan penafsiran terhadap al-Qur’an akan terus dilakukan oleh setiap generasi sesuai dengan tantangan aktual yang dihadapi. Petunjuk ilahiah (ilham) juga akan terus berlangsung dalam setiap zaman ditujukan kepada mereka yang mempunyai kesadaran ilahiyah dan kesadaran moralitas (manusia yang bertakwa).

Dari penjelasan Saeed di atas dapat ditegaskan bahwa sejak gradasi kedua hingga gradasi keempat, al-Qur’an telah berinteraksi secara intensif dengan pengalaman kemanusiaan. Karena itulah dalam ilmu al-Quran dipelajari konsep asbab nuzul dan konsep tadarruj (step by step) turunnya al-Qur’an. Al-Qur’an tidak turun sekaligus tetapi bertahap selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Ini semua menunjukkan bagaimana al-Qur’an hadir tidak dalam ruang yang hampa, tetapi hadir untuk menyapa realitas kemanusiaan.

Menghidupkan al-Qur’an dengan Penafsiran Kontekstual

Empat gradasi pewahyuan sebagaimana diungkap Saeed dengan sendirinya berimplikasi pada keniscayaan penafsiran kontekstual terhadap al-Qur’an. Apa yang dimaksud kontekstual dan kontekstualisasi? Kontekstualisasi adalah persoalan bagaimana menerjemahkan ajaran al-Qur’an dalam dimensi bentuk, simbol, dan bahasa budaya. Pada satu sisi, karena bentuk, simbol, dan bahasa budaya manusia beragam/mejemuk, maka ada keniscayaan kontektualisasi. Sementara pada sisi yang lain, kemajemukan tersebut menjadi “beban” dan kompleksitas kontekstualisasi. Artinya ini tidak mudah tetapi harus dilakukan. Inilah mengapa, Islam yang bercorak radikal lebih gampang disebarkan, karena ia disederhanakan dan diseragamkan. Sementara Islam kontekstual bersifat komplek dan membutuhkan penalaran untuk mengaitkan masa lalu dan masa sekarang (linking the past and the present).

Hiebert sebagaimana dikutip Samuel Zwimer menyatakan bahwa makna mengalami pergeseran antar budaya atau meaning shift between cultures (Zwimer, 2000).  Karena itu tidak mungkin untuk menerjemahkan dan menafsirkan pesan dari satu budaya ke budaya lain tanpa mengalami pergeseran makna. Pergeseran tidak dalam artian mereduksi atau mencemari pesan teks (esensi teks). Pergeseran makna dimaksudkan bagaimana sebuah pesan bisa dipahami dan diaplikasikan dalam konteks budaya yang berbeda. Kontekstualisasi justru merupakan upaya bagaimana sebuah pesan tetap relevan bagi kehidupan penerima pesan. Contoh kontekstualisasi makna al-Qur’an tentu banyak untuk disebutkan, misalnya ayat-ayat poligami, perbudakan, kewarisan, gender dan sebagainya.

Karena itu kontekstualisasi sesungguhnya adalah upaya menghidupkan al-Qur’an. Kontekstualisasi justru menunjuk pada makna universalitas pesan al-Qur’an. Kontekstualisasi adalah upaya bagaimana al-Qur’an yashluh kulla zaman wa makan (relevan dalam setiap waktu dan tempat). Pertanyaannya kemudian sudahkan kita menegosiasikan pengalaman kemanusiaan kita dengan al-Qur’an? Atau kita hanya mendiktekan begitu saja pemahaman harfiyah al-Qur’an kita pada kehidupan? Apakah ini justru tidak mendistorsi pesan al-Qur’an? Pertanyaan-pertanyaan retoris ini mestinya menuntun kita pada pembacaan yang produktif (qira’ah muntijah) terhadap al-Qur’an. Ya, bukan sekedar reciting, tetapi reading. Tujuannya agar al-Qur’an benar-benar hidup menemani umat Islam dalam memecahkan berbagai problem kehidupan yang kian kompleks. Amin

Sumber gambar: muslimah.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: