579 views

Wawasan Filsafat Ilmu tentang Obyek Material-Formal Penelitian

Wawasan Filsafat Ilmu tentang Obyek Material-Formal Penelitian

Abid Rohmanu

Berdasar riset Knowledge Sector Initiative (KSI), Perguruan Tinggi di Indonesia dinilai belum kompetitif. Kinerja penelitian dan publikasi belum sebanding dengan banyaknya jumlah PT di Indonesia. Berdasar rangking, Indonesia masih di bawah negara Thailand, Malaysia dan Singapura (https://www.ksi-indonesia.org/). Ada banyak faktor yang berpengaruh terhadap kinerja penelitian, di antaranya masih lemahnya fondasi filsafat ilmu sebagai basis pengembangan ilmu pengetahuan (baca: riset).

Di banyak PT, Filsafat dan filsafat ilmu dinilai tidak praktis dan tidak penting karenanya harus dikeluarkan dari kurikulum pendidikan. Disiplin keilmuan ini dinilai relevan hanya untuk Prodi Filsafat dan Fakultas Ushuluddin. Akibatnya fondasi keilmuan dan pengembangan ilmu dalam berbagai program studi menjadi lemah. Kinerja riset secara subtantif-metodologis masih jauh dari nalar pengembangan ilmu yang mensyaratkan rasionalitas, obyektivitas, sistematis dan metodis.

Berdasar pengalaman mengajar, membimbing, dan menguji skripsi dan tesis, kebanykan mahasiswa gagal paham dengan konsep obyek material dan formal ilmu pengetahuan. Padahal kedua konsep ini penting untuk ditranformasikan dalam perencanaan sebuah riset. Sebagaimana ilmu pengetahuan selalu dicirikan mempunyai obyek material dan formal, riset juga menuntut demikian. Tanpa pendasaran terhadap dua konsep ini, riset akan bersifat kabur dan lebih jauh tidak akan kontributif pada pengembangan ilmu sesuai dengan keilmuan program studi yang digeluti mahasiswa.

Apa itu Obyek Material dan Formal Penelitian?

Obyek material penelitian mewakili pertanyaan what, yakni topik dan masalah apa yang akan diteliti mahasiswa. Pendefinisian topik dan masalah ini penting untuk melihat kejelasan batas dan skop penelitian. Mengapa? Agar topik bersifat spesifik sehingga diharapkan pembahasannya bersifat mendalam. Lebih jauh, agar topik tidak keluar dari bidang ilmu yang digariskan oleh program studi.

Obyek material ilmu terfragmentasikan sesuai bidang ilmu (spesifik). Hukum Ekonomi Syariah di Fakultas Syariah mempunyai kajian spesifik yang berbeda dengan Ekonomi Syariah di Fakultas Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Terlepas keduanya mempunyai titik singgung. Kajian ilmu yang spesifik berbeda dengan obyek material filsafat yang bersifat universal, mencakup apa saja dari “yang ada”, baik yang ada tersebut dalam pikiran, kenyataan, atau dalam kemungkinan (Anton Bakker dan Achmad Charris Zubair: 1990).

Sementara itu, obyek formal formal penelitian adalah sudut pandang dan perspektif teoritis yang digunakan oleh peneliti. Dengan obyek formal ini, obyek material penelitian akan dilihat dengan sudut pandang tertentu atau kacamata pandang tertentu. Dari sisi ini, obyek material penelitian tidak bisa dibaca oleh peneliti dengan mata telanjang atau “semau gue” yang sifatnya tidak terukur. Obyektivitas penelitian meniscayakan alat ukur tertentu untuk membaca obyek penelitian. Penelitian yang bersifat grouded sekalipun sesungguhnya tidak terlepas dari perspektif teoritis penelitinya.

Berbeda dengan obyek material ilmu pengetahuan dan penelitian yang bersifat fragmentaris (spesifik bidang ilmu), obyek formal penelitian bersifat non-fragmentaris. Artinya obyek formal penelitian bersifat interdisipliner atau lintas keilmuan (Anton Bakker dan Achmad Charris Zubair: 1990). Hal ini menguatkan eksistensi dan pentingnya pendekatan interdisipliner dalam penelitian dan kajian keilmuan. Ini sebagaimana “manusia” sebagai obyek kajian bisa didekati dengan cara yang berbeda-beda (sebagai makhluk biologis, psikis, sosial, dan seterusnya).

Dalam keilmuan hukum Islam misalnya (sesuai background keilmuan penulis), penelitian hukum Islam tidak bisa hanya semata memakai pendekatan normatif, tetapi juga memakai pendekatan empirik (memakai keilmuan sosial tertentu) sesuai karakteristik obyek kajian. Karena itu mengapa dalam Fakultas Syariah dan Hukum diajarkamn mata kuliah sosiologi (Hukum), Filsafat (Hukum), Psikologi (Hukum) untuk menyebut sebagian.

Ada keterkaitan yang erat antara obyek material dan formal penelitian. Obyek material menentukan obyek formal apa yang seharusnya dipilih. Obyek formal selanjutnya menentukan metode apa yang dipakai. Ilustrasi sederhananya, meneliti hewan dan meneliti manusia menuntut pendekatan dan metode yang berbeda kendati keduanya sama-sama makhluk hidup.

Misal lain, agama sebagai obyek material penelitian tidak selalu bisa menggunakan pendekatan normatif tergantung bagaimana agama didefinisikan oleh seorang peneliti. Agama yang dimaknai sebagai praksis sosial akan lebih tepat jika berobyek formal ilmu-ilmu sosial dengan metode yang bersifat empiris. Sementara agama sebagai sistem norma bisa didekati dengan keilmuan teologi dan filsafat atau ilmu hukum/fikih.

***

Hal di atas adalah gambaran sederhana saja betapa ada keterkaitan antara riset/penelitian dengan filsafat (ilmu). Penelitian tidak saja berkaitan dengan hal yang bersifat teknis prosedural, tetapi mengasumsikan basis paradigma/filsafat tertentu yang dalam tulisan ini dibahasakan dengan obyek formal penelitian.

Sementara kajian filsafat dan filsafat ilmu tidak populer akan berimbas pada lemahnya riset sebagai basis pengembangan ilmu. Itulah mengapa kelas online Irwan Abdullah Scholar (www.youtube.com/channel/UCOjRCXoevt9N9k-vbB77iqw/videos)  memulai pembahasan kelas menelitinya dengan obyek material dan formal penelitian. Itulah mengapa pula mata kuliah metodologi penelitian penting untuk membincang obyek material dan obyek formal ilmu pengetahuan dan riset. Wallah A’lam!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: