Mengapa Uji Similaritas?

Perkembangan teknologi informasi ibarat pisau bermata dua. Ia menyediakan berbagai sumber dan data penulisan karya ilmiah. Pada sisi yang lain, ia menstimulasi untuk menulis secara instan, di antaranya dengan re-tweet karya-karya ilmiah sebelumnya yang mudah didapat dari sumber-sumber online. Re-tweet adalah istilah yang digunakan Turnitin untuk menunjuk tulisan yang telah melakukan sitasi secara benar tetapi bertumpu pada kedekatan/kemiripan teks rujukan dari sisi kata dan atau struktur (Paper includes proper citation, but relies too closely on text’s original wording and/or structure).

Pengalaman Penulis melakukan cek similaritas terhadap tugas kelas (makalah) menggunakan Turnitin dalam beberapa semester terakhir, tingkat similaritas cukup tinggi. Sebagian besar di atas 25%, bahkan 50% ke atas. Tingginya tingkat similaritas tentu tidak selalu ekuivalen dengan plagiarisme. Namun, tingginya tingkat similaritas tersebut bisa menjadi alarm dan dugaan awal proses penulisan karya ilmiah yang tidak benar. Proses tidak lurus tersebut berkaitan dengan keengganan/kemalasan mahasiswa melakukan parafrase dalam penulisan karya ilmiah. Parafrase adalah meredaksikan kembali pesan dari sebuah kutipan tidak langsung dalam sebuah karya ilmiah.

Maka, membudayakan menulis secara benar dengan kontrol plagiarism checker di kalangan mahasiswa  menjadi tuntutan yang tidak bisa ditawar. Penggunaan plagiarism checker tidak semata berkaitan dengan persoalan integritas akademik, tetapi juga menjadi bagian dari kesadaran meningkatkan kualitas dan mutu karya ilmiah di tingkat mahasiswa. Mutu karya ilmiah tentu terkait dengan kreativitas bernalar dan berbahasa dengan mengusung gagasan dan argumentasi yang genuin, tidak sekedar menampilkan kutipan-kutipan harfiyah dari karya-karya sebelumnya.

Sudah saatnya cek similaritas tidak saja untuk tugas akhir tesis (magister) tetapi juga skripsi, tidak saja tugas akhir tetapi juga tugas-tugas kelas (makalah). Makalah kelas penting untuk dicek similaritasnya karena menjadi media kontrol apakah mahasiswa telah berproses secara benar dalam menulis. Pembudayaan terhadap hal ini idealnya tidak saja bersifat top-down yang semata-mata inisiasi kebijakan dosen, tetapi mahasiswa pro aktif dengan secara mandiri melakukan plagiarism checker sebelum mereka men-submite tugas.

Ada beberapa layanan cek similaritas berbasis web  dari yang berbayar hingga yang gratis, dari yang sederhana hingga yang relatif kompleks. Mesin pencari Google misalnya adalah layanan gratis dan sederhana yang bisa dipakai untuk cek similaritas karya ilmiah.  Layanan gratis lainnya adalah smallseotools.com. Turnitin adalah contoh layanan yang berbayar, turnitin.com. 

Dalam konteks ini cek similaritas bukan semata-mata untuk mengetahui tingkat plagiarisme dan penindakannya, tetapi lebih pada kesadaran untuk meningkatkan mutu dan kualitas karya ilmiah mahasiswa dengan bertumpu pada proses menulis secara benar. Berbagai terobosan dan dukungan kebijakan kampus terhadap persoalan ini penting segera dilakukan. Ini seiring dengan tuntutan publikasi ilmiah mahasiswa (khususnya level magister) dalam standar akreditasi yang baru.

Sudat saatnya kampus meluaskan penggunaan dan layanan plagiarism checker yang tidak saja bisa diakses dosen tetapi juga mahasiswa. Integrasi plagiarism checker atau uji similaritas dengan aplikasi pembelajaran daring semisal Moodle atau Google Classroom bisa menjadi solusi yang menarik. Semuanya menjadi bagian dari peningkatan kesadaran akan makna penting kualitas karya dan publikasi ilmiah mahasiswa, selain integritas akademik itu sendiri. (Royal Bukit Asri, 12 Januari 2021).

Ilustrasi: help.turnitin.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: