Views: 3
2 min read
Peringatan satu abad Pondok Modern Darussalam Gontor di Ponorogo kemarin (19 September 2026) bukan hanya soal perayaan umur sebuah pesantren. Ada peristiwa lain yang lebih menarik dicermati: Presiden Prabowo Subianto meresmikan Fakultas Kedokteran Universitas Darussalam Gontor.
ANTARA Jawa Timur melaporkan peresmian tersebut dilakukan bersamaan dengan Balai Pertemuan Pondok Modern. Dalam rangkaian yang sama, Gontor juga memperkenalkan Mushaf Gontor yang dikerjakan dengan melibatkan santri dan guru. Dua simbol hadir berdekatan: mushaf Al-Qur’an dan fakultas kedokteran.
Perkembangan itu cermin menarik perjalanan pendidikan Islam Indonesia. Pesantren dahulu lebih diasosiasikan dengan transmisi ilmu-ilmu keagamaan. Kini sejumlah pesantren telah berkembang: mengelola PT/universitas, ekonomi, teknologi, kesehatan, dan disiplin profesional lainnya. Gontor sendiri tumbuh melalui mekanisme wakaf, kaderisasi, dan pengembangan institusi lintas generasi.
Peringatan satu abad itu dapat dibaca bukan hanya sebagai keberhasilan mempertahankan tradisi, tetapi juga kemampuan sebuah institusi memperluas wilayah keilmuannya. Dalam sambutan peringatan tersebut, pimpinan Gontor menekankan perjalanan pendidikan dan pengabdian pesantren kepada masyarakat, bangsa, dan dunia.
Namun memasuki bidang kedokteran membawa tantangan yang lebih serius daripada sekadar membuka program studi baru. Pendidikan dokter memiliki epistemologi, standar evidensi, etika profesi, laboratorium, sistem klinis, dan regulasi yang ketat. Karena itu, pertanyaannya bukan apakah ilmu kedokteran dapat diberi identitas Islam.
Pertanyaan pentingnya adalah bagaimana identitas keislaman benar-benar menghasilkan nilai tambah dalam cara bagaimana calon dokter memahami manusia, kesehatan, penderitaan, tanggung jawab profesional, dan pelayanan kepada masyarakat.
Di sinilah konsep integrasi keilmuan perlu dibuat lebih substantif. Integrasi bukan menempatkan ilmu agama dan ilmu kedokteran berdampingan, lalu menganggap keduanya sudah terhubung. Ilmu kedokteran menjawab banyak pertanyaan melalui observasi, eksperimen, dan bukti klinis; agama menanyakan tentang nilai, tujuan, martabat manusia, dan batas moral tindakan. Keduanya bekerja pada wilayah epistemik yang tidak selalu sama.
Integrasi terjadi ketika perbedaan itu dipahami, lalu dipertemukan secara produktif. Sains dapat menjelaskan efektivitas suatu tindakan medis, tetapi pertanyaan tentang keadilan akses, penghormatan terhadap pasien, akhir kehidupan, atau penggunaan teknologi reproduksi tetap memerlukan pertimbangan etik dan normatif.
Karena itu, perkembangan Fakultas Kedokteran UNIDA Gontor menarik untuk dilihat beberapa tahun ke depan. Ukuran keberhasilannya tidak cukup hanya pada gedung, jumlah mahasiswa, atau akreditasi. Pertanyaan yang lebih bernilai adalah apakah ia mampu menghasilkan model pendidikan dokter yang secara ilmiah kuat sekaligus memiliki kedalaman etik.
Jika itu berhasil, satu abad Gontor tidak hanya menunjukkan kemampuan pesantren bertahan. Ia menunjukkan kemampuan tradisi Islam memasuki ilmu modern tanpa kehilangan daya kritisnya.
