Skip to content

Membaca belum tentu Memahami

Views: 5

1 min read

ANTARA melaporkan bahwa hampir 97 persen penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas telah melek huruf pada 2024. Namun, kemampuan membaca belum tentu berarti mampu memahami informasi secara mendalam.

Data The Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 dari OECD menunjukkan hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia mencapai Level 2 dalam membaca. Mereka mampu menemukan gagasan utama dan informasi tertentu, tetapi hampir tidak ada yang mencapai Level 5, yang menuntut pemahaman teks kompleks serta kemampuan membedakan fakta dan opini.

Kedua data ini menggarisbawahi bahwa bisa membaca belum tentu mampu membaca secara kritis. Literasi tinggi mencakup kemampuan menilai maksud, bukti, kredibilitas, dan kesimpulan sebuah teks.

Kemampuan ini semakin penting di era media sosial dan AI, ketika informasi mudah diproduksi dan tersebar. Literasi kini juga berarti memeriksa sumber, mengenali manipulasi, dan membedakan pengetahuan dari informasi yang seolah meyakinkan.

Karena itu, pendidikan tidak cukup mendorong siswa/mahasiswa untuk banyak membaca, tetapi juga untuk memahami secara lebih baik. Pertanyaan di kelas perlu bergeser dari “apa isi teks ini?” menjadi “mengapa informasi ini dapat dipercaya?” dan “bukti apa yang mendukungnya?”.

Bagikan ke: