Skip to content

Khutbah Jum’at: Ilmu yang Berdampak

Views: 21

4 min read

Khutbah ini mengajak warga kampus merenungkan apakah ilmu yang dipelajari telah menjawab kebutuhan orang di sekitarnya. Berpijak pada QS At-Taubah:122, ilmu perlu didalami dengan sungguh-sungguh, disampaikan dengan rendah hati, dan dihadirkan untuk membantu masyarakat mengambil keputusan yang lebih baik.

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita meningkatkan takwa kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Pada hari ini, di tengah kehidupan kampus, marilah kita merenungkan satu pertanyaan penting: Sudahkah ilmu yang kita pelajari menjawab kebutuhan orang di sekitar kita?

Di kampus, kita membaca, berdiskusi, meneliti, dan mengajar. Mahasiswa berusaha meraih gelar. Dosen berusaha mengembangkan pengetahuan. Semua itu tentu pekerjaan yang baik. Namun, orang-orang di sekitar kita juga menghadapi berbagai persoalan kehidupan yang nyata: bagaimana mendidik anak, menjaga keluarga, mencari penghidupan, atau memperoleh hak ketika berhadapan dengan persoalan hukum.

Apakah pengetahuan yang tumbuh di kampus ikut membantu mereka? Pertanyaan ini bukan bermaksud untuk mengecilkan kerja yang sudah dilakukan. Ini adalah muhasabah agar ilmu yang kita pelajari bisa memberikan manfaat untuk masyarakat dan tidak kehilangan arah.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Allah berfirman dalam surat al-Taubah: 122

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ.

Tidak sepatutnya orang-orang mukmin pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi (tinggal bersama Rasulullah) untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya?

Ayat ini menjelaskan bahwa tidak semua orang beriman harus menjalankan tugas yang sama. Di tengah berbagai tugas umat, harus ada yang memperdalam pengetahuan agama. Pengetahuan itu kemudian disampaikan kepada kaumnya agar mereka dapat menjaga diri dan bertindak dengan lebih hati-hati.

Perhatikan firman Allah: لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ—agar mereka memperdalam pemahaman agama. Ilmu memerlukan kesungguhan. Kita tidak dapat memahami persoalan hanya dari kesan pertama, potongan cerita, atau jawaban yang terburu-buru.

Ini pelajaran penting bagi warga kampus. Niat membantu masyarakat adalah niat yang mulia. Tetapi sebelum menawarkan jalan keluar, kita harus memahami persoalannya. Sebuah kesulitan keluarga, misalnya, mungkin tidak selesai hanya dengan nasihat singkat. Ada keadaan ekonomi, hubungan antaranggota keluarga, dan pengalaman hidup yang perlu didengar.

Karena itu, belajar sungguh-sungguh adalah bagian dari amanah. Membaca dengan teliti, memeriksa keterangan, dan berani berkata “saya belum tahu” dapat menjadi bentuk kejujuran. Orang yang rendah hati terhadap batas ilmunya justru lebih siap menemukan kebenaran.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Ayat itu kemudian menyebut: وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ—agar mereka memberi peringatan kepada kaumnya. Ilmu tidak berhenti pada orang yang mempelajarinya. Ia disampaikan agar orang lain dapat memahami hal yang perlu dijaga dan memperbaiki tindakannya.

Secara langsung, ayat ini berbicara tentang pendalaman dan penyampaian pengetahuan agama. Dari sana kita mengambil pelajaran bagi kehidupan kampus: kesempatan belajar membawa tanggung jawab untuk membagikan pengetahuan secara benar dan berguna.

Tetapi membagikan ilmu tidak berarti datang kepada masyarakat seolah-olah kita memiliki seluruh jawaban. Masyarakat lebih mengenal kehidupan yang mereka jalani. Mereka mengetahui kesulitan yang dihadapi, upaya yang pernah dicoba, dan keadaan yang mungkin tidak terlihat dari ruang kuliah.

Maka kampus perlu belajar dari masyarakat sebelum bekerja bersama masyarakat. Mahasiswa yang mengabdi perlu mendengar sebelum menyusun kegiatan. Peneliti perlu memberi ruang bagi pengalaman orang yang diteliti. Orang yang memberi nasihat perlu memilih bahasa yang dapat dipahami, bukan sekadar menunjukkan bahwa dirinya banyak tahu.

Ilmu yang bermanfaat berjalan dua arah. Kita membawa pengetahuan yang dipelajari dengan tekun, tetapi kita juga bersedia pulang dengan pertanyaan baru setelah mendengar kenyataan hidup orang lain.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Bagian akhir ayat berbunyi: لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ—agar mereka dapat menjaga diri. Pengetahuan yang disampaikan mempunyai tujuan dalam kehidupan. Ia membantu orang melihat akibat tindakannya, menghindari kekeliruan, dan memilih jalan yang lebih baik.

Di sini kita patut bertanya: Apa yang berubah dalam kehidupan sesama karena ilmu yang kita miliki? Apakah penjelasan kita mengurangi kebingungan seseorang? Apakah pendampingan kita membantu warga mengenali pilihannya? Apakah pekerjaan yang kita lakukan masih berguna setelah kita pergi?

Kita tidak dituntut menyelesaikan semua persoalan dalam satu kegiatan. Ada ilmu yang membutuhkan waktu panjang untuk matang. Justru karena itu, pekerjaan kita perlu dilakukan dengan sabar, teliti, dan berkelanjutan sesuai kemampuan.

Di UIN Ponorogo, jalan pengabdian itu telah diusahakan melalui berbagai kegiatan mahasiswa dan dosen. Marilah kita merawatnya dengan pertanyaan yang jujur: apakah kita sudah sungguh mendengar, dan apa yang dapat kita perbaiki agar manfaatnya lebih terasa?

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita membawa pulang tiga ikhtiar sederhana. Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Dengarkan orang sebelum menilai persoalannya. Sampaikan ilmu dengan rendah hati dalam bentuk yang dapat mereka gunakan.

Ajakan ini berlaku bagi mahasiswa dan dosen, juga bagi kita semua. Setiap orang memiliki pengalaman dan kemampuan yang dapat dibagikan. Ketika seorang tetangga membutuhkan bantuan memahami suatu urusan, bantulah semampunya. Ketika kita belum mengetahui jawabannya, tuntun ia kepada orang yang lebih mengerti. Itulah bagian dari menjaga amanah ilmu.

Ilmu memerlukan tempat untuk tumbuh (kampus), tetapi juga memerlukan jalan untuk pulang (disampaikan kepada masyarakat). Semoga Allah menjadikan kita hamba yang tekun belajar, jujur ketika belum tahu, dan ringan hati menggunakan pengetahuan bagi kebaikan sesama.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِآبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا، وَلِمَشَايِخِنَا وَمُعَلِّمِيْنَا. اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا عِلْمًا نَافِعًا وَعَمَلًا صَالِحًا. بَارِكْ فِي طُلَّابِنَا وَمُعَلِّمِيْنَا، وَاجْعَلْ عِلْمَنَا نَافِعًا لِعِبَادِكَ. اَللّٰهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا، وَوَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِلْعَدْلِ وَالْأَمَانَةِ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَارْحَمِ الضُّعَفَاءَ وَالْمُحْتَاجِيْنَ، وَاحْفَظِ النَّاسَ أَجْمَعِيْنَ مِنَ الْبَلَاءِ وَالْفِتَنِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Bagikan ke: