Views: 2
2 min read
Berkunjung ke Masjid Gedhe Mataram Kotagede (7 Oktober 2026) membawa saya menelusuri jejak awal Mataram Islam. Kompleks ini mempertemukan bangunan masjid, halaman berpagar, gapura, dan makam para leluhur kerajaan.
Pada papan profil yang terpajang, sejarah bangunan dijelaskan bersama denah kompleksnya. Masjid ini telah berusia lebih dari empat abad; papan tersebut menyebut pembangunan selesai pada 1589.
Tata ruangnya membantu memahami kedudukan masjid dalam kehidupan kota pada masa lalu. Masjid berada di sebelah barat lokasi yang dahulu menjadi alun-alun. Bersama keraton dan pasar, keempatnya membentuk susunan ruang yang dikenal sebagai catur gatra tunggal. Pemerintahan, kehidupan sosial, ibadah, dan kegiatan ekonomi memiliki tempat yang saling berhubungan.
Dalam kunjungan ini, saya menyimak penjelasan penulis profil masjid mengenai bentuk dan makna bangunannya. Atap ruang utama menggunakan konstruksi tajug lambang gantung. Ia mengibaratkan bentuknya seperti payung mekrok, payung yang terbuka mengembang. Perumpamaan itu membantu saya membayangkan susunan rangka kayu yang menopang atap di atas ruang salat.
***
Penjelasannya kemudian beralih pada mustaka, hiasan puncak atap dalam arsitektur Jawa. Ornamen daun kluwih dimaknai sebagai doa agar manusia memperoleh kaluwihan, atau kelebihan. Bagian yang disebut godo diibaratkannya sebagai antena yang mengangkat doa. Saya menangkap penjelasan itu sebagai bahasa simbolik: unsur bangunan diberi makna yang menghubungkan bentuk, harapan, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Pemaknaan kluwih juga tercatat dalam uraian Dinas Kebudayaan DIY.
Sejarah pengelolaannya juga menarik. Perjanjian Giyanti pada 1755 membagi Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Kompleks masjid dan makam di Kotagede tetap memiliki ikatan dengan kedua keraton karena di sinilah leluhur mereka dimakamkan. Kepengurusannya melibatkan abdi dalem dari Surakarta dan Yogyakarta, memperlihatkan hubungan yang terus dipelihara melalui warisan bersama.
Bangunan yang bertahan hingga sekarang telah melalui berbagai perbaikan. Papan profil mencatat kebakaran pada 1919 dan perbaikan hingga 1923. Dalam penjelasan di lokasi, perubahan bahan penutup atap juga dikaitkan dengan kebutuhan mengurangi beban bangunan. Dokumentasi Dinas Kebudayaan DIY mencatat rehabilitasi pada 2015, termasuk penggantian penutup atap menjadi sirap metal serta perbaikan rangka kayu dan mustaka.


Sumber: Kunjungan Forum Dekan PTKIN 2026 ke lokasi; Penuturan Penulis Profil Masjid; Situs Cagar Budaya: https://jogjacagar.jogjaprov.go.id/detail/4818/displayrecords-i-nama-warisan?utm_source=chatgpt.com
