Views: 0
3 min read
Setelah kegiatan Seminar Internasional Fakultas Syariah UIN Ponorogo (29 September 2026), saya bersama kolega berkesempatan mengantar narasumber, Asst. Prof. Dr. Haji Azme bin Haji Matali, Dekan Fakultas Syariah Universiti Islam Sultan Sharif Ali (UNISSA), Brunei Darussalam, bersilaturahmi ke Pondok Putri Pesantren Ngabar dan berziarah ke makam Kiai Ageng Muhammad Besari di Tegalsari, Ponorogo.
Di kompleks Masjid Tegalsari, perhatian Dr. Azme dan saya tertuju pada empat gerbang di sekitar menara masjid yang memiliki nama menarik: Dwara Bawana, Dwara Atma, Dwara Parastra, dan Dwara Paratra.
Nama-nama yang berakar pada khazanah bahasa Jawa klasik tersebut menarik untuk direnungkan. Apa pesan filosofis di baliknya? Jika dibaca sebagai satu kesatuan, keempat gerbang/pintu itu membuka ruang refleksi tentang perjalanan eksistensial manusia: berada di dunia, mengenali diri, menghadapi kematian, dan merenungkan kehidupan setelahnya.
Dwara berarti pintu atau gerbang, sedangkan empat nama yang menyertainya masing-masing merujuk pada dunia (bawana), jiwa (atma), kematian (parastra), dan alam keabadian (paratra). Latar historisnya belum didalami untuk memastikan maksud asli penamaan tersebut. Namun, jika dibaca sebagai satu kesatuan, keempatnya membuka kemungkinan untuk perenungan filosofis tentang perjalanan eksistensial manusia.
Dwara Bawana dapat menjadi titik berangkat. Manusia hadir di dunia tanpa pernah memilih kapan, di mana, dan dari siapa ia dilahirkan. Akan tetapi, ia memiliki tanggung jawab untuk menentukan bagaimana menjalani hidupnya. Inilah persoalan mendasar filsafat eksistensial: manusia tidak cukup hanya berada di dunia, tetapi harus memberi makna pada eksistensinya.
Dari sini kita memasuki Dwara Atma, gerbang menuju pengenalan diri. Setelah sibuk memahami dan menguasai dunia, manusia justru dihadapkan pada pertanyaan yang lebih mendasar: siapakah dirinya dan untuk apa ia hidup? Dalam tradisi tasawuf, pertanyaan tentang diri menjadi gerbang penting untuk merenungkan hubungan manusia dengan Tuhan.
Nama dua pintu berikutnya memunculkan perenungan tentang persoalan yang sering kali dihindari manusia. Dwara Parastra mengingatkan pada kematian, kenyataan yang menegaskan keterbatasan seluruh capaian duniawi. Kesadaran akan kematian tidak harus melahirkan pesimisme. Sebaliknya, justru karena kehidupan terbatas, setiap pilihan memperoleh bobot moralnya.
Sementara itu, Dwara Paratra, yang dapat dimaknai sebagai gerbang menuju kehidupan setelah kematian, mengajak manusia merenungkan dimensi keberadaannya yang melampaui kehidupan duniawi. Di sinilah filsafat eksistensial bertemu dengan pandangan eskatologis Islam: kesadaran akan keterbatasan hidup bertemu dengan keyakinan akan pertanggungjawaban di hadapan Tuhan.
Keempat gerbang itu mengingatkan pada falsafah Jawa sangkan paraning dumadi: dari mana manusia berasal dan ke mana akhir perjalanan. Dunia bukan sekadar tempat tinggal, pengenalan diri bukan sekadar pencarian identitas, dan kematian bukan semata-mata akhir kehidupan.
Semua mengantarkan manusia pada pertanyaan tentang makna dan tanggung jawab eksistensial kemanusiaan. Barangkali, pelajaran terpenting dari empat dwara itu sederhana: manusia tidak hanya perlu mengetahui ke mana ia akan pergi, tetapi juga menyadari bagaimana seharusnya ia hidup sebelum ia pergi “ke sana”.
